Sumber Gambar: legacyinwords.wordpress.com Oleh: E. Ova Siti Sofwatul Ummah Tulisan ini membahas tentang fenomena kejahatan yang mengatasnamakan kehormatan di Timur Tengah. Secara sederhana tulisan ini diupayakan selain untuk melihat tindakan kejahatannya, juga untuk mengenali bahwa tindak kejahatan di balik dalih menjaga dan menghormati perempuan di Kawasan Timur Tengah, juga terdapat bentuk penindasan terhadap perempuan itu sendiri. Mengapa hanya perempuan yang dituntut menjaga diri (kesucian/keperawanan) bahkan menjadi simbol kehormatan keluarga, sedangkan laki-laki tidak dituntut hal yang sama. Crimes of Honor berarti kejahatan yang mengatasnamakan kehormatan menjadi sorotan utama dalam artikel ini. Menurut Lama Abu Odeh (Mai Yamani (ed.) 2000:206), Crimes of Honor adalah pembunuhan perempuan oleh Ayah atau saudara laki-laki karena terlibat atau disangka terlibat dalam praktik-praktik seksual sebelum atau di luar nikah. Istila...
Sumber gambar: http://www.erabaru.net Oleh: Sofwatul Ummah Sosok Kiyai Tubagus Arsyad Kiyai Tegal adalah julukan yang diberikan kepada Tubagus Arsyad, seorang ulama yang lahir di Desa Tegal (sebutan Menes sekarang) dan salah satu pendiri Mathla’ul Anwar Menes Pandeglang Banten pada tahun 1916 M (pada 1926 lembaga tersebut disempurnakan menjadi Mathla’ul Anwar Li Nahdlotil Ulama (MALNU). Ia mendirikian MALNU bersama KH. Tb Soleh Kananga, KH. E. Muhammad Yasin, dan KH. Mas Abdurrahman bin Jamal, selanjutnya empat ulama pendiri MALNU tersebut dijuluki dengan sebutan "empat serangkai" dan keempat ulama tersebut adalah murid dari Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Setelah dirasa cukup nyantri oleh Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani, Kiyai Tb. Arsyad diizinkan untuk kembali ke tanah air dengan tujuan luhur yaitu mendidik umat dan mengamalkan ilmu-ilmu yang diperolehnya di tanah Hijaz. Melihat kondisi tanah kelahirannya yang memprihatinkan, atas dasar rasa tanggung ...
Credit by Pinterest Hi Puan-puan dan Tuan-tuan, tulisan ini ditulis sebagai refleksi diri dan rasa syukur atas terpilihnya saya sebagai salah satu muslimah untuk program @muslimahforchange yang diselenggarakan oleh @pendidikanpesantren dan @wahidfoundation , maka dengan senang hati saya akan membagikan salah satu pengetahuan yang keren dalam salah satu sesi di program tersebut, tentunya disampaikan oleh pembicara yang keren juga, Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. Dosen Pascasarjana PTIQ Jakarta yang sudah malang melintang di dunia per-gender-an. Tulisan ini juga semata ditulis dengan tujuan untuk menyebarluaskan prinsip kesalingan di antara Puan dan Tuan para pembaca. Namun sebelumnya, para pembaca jangan merasa tabu dengan hal-hal yang akan dipaparkan di bawah ini. Mari membiasakan diri untuk tau lebih luas dan mendalam mengenai pengetahuan yang selama ini dianggap tabu dan tidak layak didiskusikan di ruang publik. Pada sesi Pemberdayaan Perempuan dalam Islam . Setidaky...
Komentar
Posting Komentar